Bimbingan Konseling: Profesi dan Prospek di Masa Depan
Bimbingan
Konseling: Profesi dan Prospek di Masa Depan

Ketidakpopuleran ini juga muncul disebabkan banyak
orang yang masih menyamakan antara sekolah/lembaga pendidikan dengan mengajar.
Memang benar bahwa profesi mengajar ialah profesi guru. Namun, yang tidak
banyak diketahui masyarakat bahwa konsep pendidikan bukan saja tentang mengajar
namun membangun karakter (character building). Selain itu pula
komponen di dunia pendidikan (profesi-profesi di dunia pendidikan) tidak hanya
profesi guru saja. Profesi-profesi yang terdapat di dunia pendidikan yaitu
pustakawan (lulusan ilmu perpustakaan), Laborat (lulusan sains/bahasa),
administrasi pendidikan (lulusan administrasi pendidikan), teknolog pendidikan
(lulusan teknologi pendidikan), psikolog pendidikan (lulusan Psikologi
pendidikan), dan konselor (lulusan bimbingan dan konseling).
Apa itu Bimbingan dan Konseling?
Menurut Prof. Dr. Prayitno, M.Sc.Ed. Guru
Besar Bimbingan dan Konseling dari Universitas Negeri Padang bahwa konseling adalah proses
pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli
(disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami suatu masalah (disebut
klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien.
Dari pernyataan tersebut jelas disebutkan bahwa
konseling dilakukan oleh seorang ahli (profesional) dalam yang mendapatkan
pendidikan dan pelatihan khusus tentang prinsip-prinsip dan teknik-teknik
khusus mengenai konseling. Sehingga tidak semua orang dapat melakukan konseling.
Pendidikan dan pelatihan mengenai konseling, prinsip, teknik dan
landasan-landasan ini yang dipelajari di dalam perkuliahan bimbingan dan
konseling. Sebagai gambaran ada 4 aliran besar di dalam psikologi konseling
(Psikoanalisis, Behaviorisme, Eksistensial-Humanistik dan Transpersonal), serta
menurut zamannya dibagi menjadi 3 yaitu aliran klasik, modern dan post modern.
Stephen Palmer (guru Besar University of City, US) mencatat ada lebih dari 25
aliran konseling terutama aliran post modern di seluruh dunia
Ada profesi lain yang juga berdekatan dengan profesi
konselor dan seringkali tumpang tindih. Tumpang tindih yang dimaksud ialah
penggunaan istilah “konseling” pada profesi ini, dan kewenangan melakukan
konseling. Profesi ini yaitu profesi Psikolog dan Profesi Psikiater. Profesi
Psikolog ialah seorang lulusan S1& S2 Psikologi serta telah mengikuti
profesi psikolog (.Psi.). Sementara profesi Psikiater ialah lulusan S1
Pendidikan Dokter ditambah Spesialisasi kedokteran Jiwa (Sp.Kj).
Perbedaannya bahwa Psikolog memiliki kewenangan melakukan psikoterapi pada
klien yang mengalami gangguan kejiwaan neurosis dan psikosis serta berwenang
melakukan interpretasi kepribadian (kejiwaan klien) dengan pendekatan
psikologi. Profesi psikiater memiliki kewenangan melakukan psikoterapi pada
pasien yang mengalami sakit jiwa dengan pendekatan medis (obat-obatan).
Misalkan pada kasus pasien Skizofrenia, seorang psikiater lebih cenderung
menggunakan obat-obatan (medis) seperti obat penenang untuk penyembuhan pasien
sementara psikolog menggunakan pendekatan psikoterapi (psikologis) untuk
penyembuhan klien tanpa treatmen obat-obatan.
Jurusan Bimbingan dan Konseling (BK) juga dikenal
dengan nama Psikologi Pendidikan dan Bimbingan (PPB). Biasanya, di jurusan
Psikologi Pendidikan dan Bimbingan (PPB) masih dibagi ke dalam program studi
Psikologi (murni) dan Bimbingan dan Konseling. Sehingga di jurusan PPB,
dosen-dosen psikologinya juga adalah dosen yang mengajar di program bimbingan
dan konseling. Hal ini terjadi, seperti di Universitas Negeri Surabaya (Unesa)
dan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung
Peran Bimbingan dan Konseling terhadap masyarakat
Hampir tidak ada orang yang tidak pernah mengalami
masalah dalam hidupnya. Dengan kata lain semua orang pasti mempunyai masalah,
entah masalah itu kecil atau sangat rumit. Namun, ada orang yang dapat dengan
baik memcahkan persoalannya sendiri, tetapi tidak sedikit pun orang yang tidak
dapat memecahkan masalahnya sendiri sehingga memerlukan bantuan. Di media massa,
hampir setiap hari kita jumpai orang yang bunuh diri. Bunuh diri merupakan
pelarian orang yang frustasi dalam memecahkan masalahnya. Contoh lain tekanan
di pekerjaan yang membuat orang menjadi stress, persaingan dunia usaha yang
begitu keras, banyaknya jumlah pengangguran, perceraian keluarga, pergaulan
remaja yang semakin bebas, penyalahgunaan narkoba, serta seks
bebas yang semakin banyak kasusnya. Kasus-kasus yang dialami
orang-orang tersebut sangat membutuhkan seorang ahli agar dapat keluar dari
permasalahannya yang rumit. Tetapi apakah hanya masalah negatif seperti itu
saja yang menjadi peran seorang konselor? Ternyata tidak, seorang konselor
dapat pula memberikan konsultasi pendidikan bagi anak-anak yang hendak
melanjutkan studi di SMA/perguruan tinggi atau konsultasi karier bagi pekerja
yang ingin meningkatkan jenjang kariernya. Seorang konselor pun dapat
memberikan jasa tes psikologis bagi seorang yang ingin mengetahui minat, bakat
dan kecerdasannya baik dalam rangka pendidikan maupun karier. Konselor juga
merupakan pemandu bakat yang professional, karena konselor mengarahkan bakat
yang dimiliki oleh seseorang agar dapat berkembang menjadi lebih baik. Di
masyarakat, konselor berperan dalam mengentaskan persoalan pengangguran melalui
pemberian bimbingan pekerjaan, menyelenggarakan pelatihan dan pendidikan kerja,
menjadi motivator, pendidikan bagi anak jalanan, kesadaran gender, kesehatan
mental serta memberikan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendidikan
keluarga, parenting (pengasuhan orang tua) dan kesehatan
reproduksi. Dengan demikian, seorang konselor mempunyai peran yang sangat
penting dalam masyarakat terutama fungsi sosial.
Landasan Ilmu Bimbingan dan
Konseling
Syarat utama bagi yang ingin
melanjutkan studi di bimbingan dan konseling ialah menyukai psikologi dan
pendidikan. Terutama jika Anda termasuk siswa yang suka mendengarkan curhat
teman atau pandai memberikan solusi atas suatu permasalahan psikologis yang
dialami teman berarti Anda sangat layak menjadi calon mahasiswa Bimbingan dan Konseling.
Bimbingan dan Konseling di seluruh perguruan tinggi di Indonesia termasuk
kelompok Ilmu Sosial (IPS). Kendatipun begitu tidak sedikit siswa yang berlatar
belakang IPA mengambil kuliah Bimbingan dan Konseling, sebab justru dari
kelompok IPA yang dapat dengan mudah mengikuti kuliah Bimbingan di Konseling. Kok begitu? Yups, di Bimbingan
Konseling, terdapat mata kuliah yang juga bernuansa IPA seperti psikologi
perkembangan yang membahas tentang perkembangan individu secara fisiologis,
kesehatan mental, dan statistika. Selain itu, siswa yang berasal dari kelompok
IPA mempunyai logika matematis yang bagus, yang sangat berguna terutama dalam
membantu proses konseling (mencari solusi atas permasalahan klien), atau
membuat aplikasi-aplikasi bimbingan dan konseling yang menggunakan dasar
teknologi informasi. Meskipun kadangkala kurang memiliki kepekaan sosial dan
komunikasi sosial yang baik, seperti siswa kelompok IPS terutama berkaitan
dengan kebudayaan atau hubungan sosial.
Lalu apa saja yang dipelajari
di jurusan Bimbingan dan Konseling?
Secara umum, perguruan tinggi
bimbingan konseling di Indonesia pasti mempelajari: ilmu Pendidikan, Psikologi,
Teori dan Teknik Konseling, serta Teknik Pemahaman Individu.
Ilmu pendidikan dipelajari sebagai landasan
dalam bimbingan konseling yang memang menfokuskan diri dalam dunia pendidikan.
Pada umumnya, mata kuliah ilmu pendidikan diajarkan pada Tahun 1. Mata kuliah
yang termasuk kedalam ilmu pendidikan adalah Pendidikan Agama, Pendidikan
Pancasila/Kewarganegaraan, Sosiologi Antropologi, Bahasa Indonesia, Bahasa
Inggris, Perkembangan Peserta Didik, Ilmu Alamiah Dasar, Pendidikan Jasmani,
Belajar Pembelajaran, Teknologi Pendidikan, pengembangan Sistem Pembelajaran,
Landasan/Dasar-Dasar Pendidikan, Evaluasi Pendidikan, Profesi Kependidikan dan
Pendidikan Inklusi.
Ilmu psikologi merupakan induk dari ilmu
konseling, sehingga tidak mungkin memisahkan konseling dengan psikologi.
Konseling merupakan psikologi terapan (terapan dari ilmu psikologi). Perbedaan
dengan jurusan psikologi adalah di Psikologi lebih umum, sementara konseling
lebih khusus membahas tentang ilmu konseling. Pada umumnya nama-nama yang
kental dengan istilah-istilah psikologi, di BK kemudian diubah menjadi
nama-nama dalam istilah BK seperti contohnya matakuliah Psikodiagnostik menjadi
Pemahaman Individu Teknik Testing. Mata Kuliah Psikologi meliputi
Psikologi/Teori-Teori Kepribadian, Psikologi Perkembangan/Perkembangan
Individu, Filsafat manusia, Psikologi Perilaku/Modifikasi Tingkah Laku/Dasar-Dasar
Pemahaman Tingkah Laku, Psikologi Komunikasi/Komunikasi Antar Pribadi,
Kesehatan Mental,
Ilmu konseling meliputi
teori-teori dan aliran konseling, praktikum pendekatan konseling, serta
teknik-teknik konseling. Mata Kuliah Ilmu Konseling yaitu Teori-Teori
Konseling, Bimbingan dan Konseling Kelompok, Bimbingan dan Konseling Populasi
Khusus/ABK, BK Pribadi-Sosial, Bimbingan dan Konseling Karier, Bimbingan dan
Konseling Belajar, Teknologi Informasi dalam BK, Pengembangan Pribadi Konselor,
Bimbingan dan Konseling Perkembangan, Profesi Bimbingan dan Konseling, Dinamika
Kelompok, Media Bimbingan dan Konseling, Evaluasi dan Supervisi BK, Survey
Bimbingan dan Konseling, Studi Kasus, Bimbingan dan Konseling Keluarga,
Konseling Lintas Budaya.
Sementara Teknik Pemahaman
individu mempelajari tentang penggunaan alat-alat yang membantu dalam proses
konseling seperti penggunaan Tes Psikologis, teknik wawancara konseling,
observasi, case study, dan Problem Checklist. Mata Kuliah teknik Pemahaman
Individu antara lain Statistika, Aplikasi Stastistik, Pemahaman Individu teknik
Non Testing, Pemahaman Individu teknik Testing.
Selain itu juga terdapat mata
kuliah Praktikum Bimbingan Konseling, di mata kuliah ini mahasiswa belajar dan
latihan praktek memberikan konseling kepada klien. Mata kuliah yang termasuk
praktikum ini yaitu: Mikro
Konseling, Praktikum Konseling Individual, Praktikum BK Kelompok, Praktikum BK
Pribadi-Sosial, Praktikum BK Belajar, Praktikum BK Karier, Praktikum PI Teknik
Testing, dan Praktikum PI Non Testing serta Praktek Pengalaman Lapangan (PPL)
Selain mata kuliah yang
disebutkan diatas, setiap perguruan tinggi Bimbingan dan Konseling juga
memiliki mata kuliah pilihan sesuai kekhasan perguruan tinggi masing-masing.
Mata kuliah pilihan merupakan peminatan mahasiswa dan dipilih berdasarkan minat
masing-masing. Misalkan di Universitas Sebelas Maret (UNS) terdapat mata kuliah
pilihan Cyber konseling (Konseling Jarak Jauh), dan Konseling Traumatik; di
UHAMKA Jakarta terdapat Kosneling Industri, Konseling Pemasyarakatan&Sosial
Kemasyarakatam dan Konseling Kesehatan; di Universitas Negeri Jakarta (UNJ)
terdapat mata kuliah Bimbingan Konseling Anak, Konseling Berbasis Gender,
Konseling NAPZA, Konseling Krisis di Sekolah, dan Konseling Untuk Anak Berbakat.
Apakah ruang lingkup bimbingan
dan konseling hanya di pendidikan saja?
Pertanyaan ini yang sering
muncul baik dikalangan calon mahasiswa, maupun mahasiswa bimbingan dan
konseling sendiri. Pada seluruh perguruan tinggi bimbingan dan konseling, gelar
sarjana Bimbingan dan Konseling yaitu Sarjana Pendidikan (S.Pd.) bidang
Bimbingan Konseling serta Magister Pendidikan/S2 (M.Pd.) bidang Bimbingan
Konseling. Beberapa perguruan tinggi bimbingan konseling lebih memfokuskan
mahasiswanya menjadi konselor pendidikan (konselor sekolah/Guru Bimbingan dan
Konseling) seperti yang terjadi di Universitas Sebelas Maret (UNS) dan
Universitas Negeri Malang (UM) Sehingga hampir pasti ruang lingkup bimbingan
dan konseling hanya di lingkup pendidikan saja. Namun, ada pula perguruan
tinggi yang juga memperlebar ruang lingkup bimbingan konseling tidak hanya di
dunia pendidikan, seperti di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga
yang juga membuka bidang konseling industri. Kendatipun gelarnya tetap Sarjana
Pendidikan (S.Pd.)
Seorang lulusan bimbingan dan
konseling setelah lulus S1 Bimbingan dan Konseling dapat menempuh Pendidikan
Profesi Konselor (PPK) yang sampai dengan saat ini baru tersedia di Universitas
Negeri Padang (UNP) dan Universitas Negeri Semarang (Unnes). Lulusan PPK
disebut dengan Konselor (Kons.). Dengan adanya sertifikat kons. dan lisensi
dari ABKIN (Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia), seorang konselor dapat
membuka praktik konseling untuk masyarakat umum tidak hanya konseling
pendidikan saja, tetapi dapat pula konseling keluarga, konseling pernikahan,
konseling anak, konseling remaja, konseling karier. Sementara itu konseor juga
berwenang memberikan tes psikologis (tes bakat, minat dan kecerdasan) apabila
telah memiliki sertifikat Tes Psikologi yang dapat ditempuh di Universitas
Negeri Malang (UM) atau lulus pada jenjang pendidikan S2 Magister Pendidikan
Bimbingan Konseling dengan konsentrasi Testing Psikologis di Universitas
Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung
Bidang-Bidang Konseling (Spesialisasi)
1.
Konseling Pendidikan
Pendidikan merupakan institusi
pembinaan anak didik yang memiliki latar belakang social budaya dan psikologis
yang beraneka ragam. Dalam mencapai maksud dan tujuan pendidikan banyak anak
didik yang menghadapi masalah dan sekaligus mengganggu tercapainya tujuan-tujuan
pendidikan. Masalah yang dihadapi sangat beraneka ragam, diantaranya masalah
pribadi, sosial, ekonomi, agama dan moral, belajar, dan vokasional.
Masalah-masalah tersebut seringkali menghambat kelancaran proses belajar,
meskipun masalah yang dihadapi tidak ada sangkut pautnya dengan kegiatan
akademik. Penyelenggara pendidikan, khususnya tenaga pendidikan bertanggung
jawab membina anak didiknya sehingga berhasil sebagaimana yang diharapkan,
termasuk mereka yang mengalami masalah.Konseling pada latar pendidikan ini
telah banyak dikenal di Indonesia. Di Amerika, klinik konseling juga didirikan
di sekolah dan pusat-pusat pendidikan pada awal perkembangan konseling,
misalnya di Pennsylvania University pada tahun 1896.
2.
Konseling Vokasional/Karier
Konseling vokasional dapat pula
disebut dengan konseling karier atau employment counseling. Konseling ini
selain berkaitan dengan usaha membantu dalam penempatan tenaga kerja juga
membantu klien yang memiliki masalah-masalah yang berhubungan dengan pekerjaan,
misalnya dalam hubungan dengan pejabat di atasnya, dan penyesuaian dengan
pekerjaan baru. Konseling vokasional ini menduduki fungsi yang sangat penting
dalam rekrutmen dan penempatan tenaga kerja sebuah perusahaan atau departemen.
Departemen Tenaga Kerja Amerika juga menggunakan konseling vokasional untuk
menempatkan para veteran Perang Dunia II pada bidang-bidang yang lebih tepat.
Di masyarakat industri, konseling vokasional ini semakin dibutuhkan baik bagi
industri untuk peningkatan usaha-usahanya dan bagi pekerja untuk peningkatan
penyesuaian kerja dan prestasi kerja.
3.
Konseling Keluarga dan
Perkawinan
Konseling yang berkenaan dengan
masalah-masalah keluarga, meliputi hubungan antar anggota keluarga (ayah, ibu,
anak), peranan dan tanggung jawab masing-masing anggota keluarga. Hidup
berkeluarga berarti melakukan penyesuaian baru, terutama yang berhubungan
dengan tanggung jawab sebagai suami istri. Dalam banyak hal, membangun keluarga
tidak semudah yang dibayangkan oleh para remaja. Banyak situasi yang harus
diselesaikan dengan cara yang amat rumit termasuk perceraian.Konseling
perkawinan dan keluarga bermaksud membantu menyelesaikan masalah-masalah
psikologis yang dihadapi kedua belah pasangan, sehingga dalam menjalankan
fungsi-fungsi keluarga mereka lebih dapat diterima kedua belah pihak dan dapat
membangun keluarga secara lebih baik.
4.
Konseling Agama
Konseling agama (religion
counseling) digunakan untuk membantu klien yang mengalami masalah-masalah yang
berhubungan dengan agama, misalnya keragu-raguan akan nilai-nilai agama,
kebimbangan dalam mengikuti aliran-aliran keagamaan, terjadinya konflik
keyakinan keagamaan dengan pola pemikiran dan sebagainya. Konseling agama
biasanya dilakukan terhadap klien yang seagama dengan konselor, dan diselenggarakan
untuk membantu orang-orang yang bermasalah keagamaan.
5.
Konseling Rehabilitasi
Konseling rehabilitasi
merupakan konseling yang dilakukan terhadap orang-orang yang sedang dalam
proses rehabilitasi. Rehabilitasi berarti proses mempercepat sosialisasi atau
berfungsi secara wajar dari keadaan sebelumnya, misalnya rehabilitasi setelah
bertahun-tahun mengalami perawatan medis, rehabilitasi karena menjalankan
hukuman, dan sebagainya. Seseorang yang di penjara misalnya membutuhkan
pelayanan konseling. Konseling tersebut bermaksud membantu klien agar tidak
mengalami masalah-masalah setelah keluar dari penjara (lembaga pemasyarakatan).
Sebagian orang yang di penjara mengalami perasaan yang tidak diinginkan,
seperti rasa tertekan, malu kepada masyarakat atau cemas tidak diterima oleh
lingkungan sosialnya nanti. Konseling rehabilitasi ini juga dimaksudkan
membantu klien yang cacat secara fisik, untuk mengembalikan persepsi dan emosi
sehingga memandang dirinya secara positif dan dapat berbuat lebih tepat sesuai dengan
potensi yang dimiliki.
6.
Konseling Traumatik
Konseling traumatik adalah
upaya konselor untuk membantu klien yang mengalami trauma melalui proses
hubungan pribadi sehingga klien dapat memahami diri sehubungan dengan masalah
trauma yang dialaminya dan berusaha untuk mengatasinya sebaik mungkin.
7.
Konseling Industri
Konseling Industri adalah
pembahasan suatu masalah dengan seorang karyawan yang mempunyai masalah
emosional dengan maksud untuk membantu karyawan tersebut agar dapat mengatasi
masalahnya secara lebih baik. Konseling bertujuan untuk memperbaiki kesehatan
mental karyawan. Kesehatan mental yang baik berarti bahwa orang-orang merasa
nyaman akan mereka sendiri, baik terhadap orang lain, dan sanggup memenuhi
kebutuhan hidup. Awal mula dikenalnya konseling karyawan adalah pada tahun 1936
di Western Electronic Company, Chicago. Diyakini bahwa inilah pertama kali
perusahaan menggunakan istilah “konseling personalia” bagi pelayanan
pembimbingan kwan. Kepuasan kerja karyawan pasti meningkat sebagai hasil dari
konseling.
Prospek Lulusan Bimbingan dan
Konseling serta Jenjang Karier
Lulusan S1 Bimbingan dan
Konseling sebagian besar terserap di dalam dunia pendidikan terutama jenjang
SMP/Mts dan SMA/SMK/MA, namun ada juga beberapa lembaga pendidikan terutama
swasta yang membutuhkan tenaga konseling untuk TK, PAUD dan SD.
Selain itu kebutuhan akan dosen
bimbingan dan konseling sangat besar di perguruan-perguruan tinggi di
Indonesia. Hal ini disebabkan banyak dosen BK yang sudah menjelang masa
pensiun, serta banyak dosen BK yang ternyata tidak berlatar belakang BK.
Sementara perguruan tinggi BK membutuhkan dosen yang berlatar belakang BK
secara linier (S-1 dan S-2 Bidang bimbingan dan konseling) untuk mendapatkan
nilai akreditasi yang baik. Sehingga peluang menjadi dosen BK sangat terbuka
lebar. Misalkan di Universitas Sebelas Maret Surakarta dari 15 dosen yang ada,
hanya terdapat 7 dosen yang berlatar belakang S-1 dan S-2 BK dan itupun 14
orang adalah dosen yang sudah menjelang masa pensiun (diatas usia 55 tahun),
sementara hanya mempunyai 1 dosen muda.
Sementara jenjang karier
lulusan BK pada umunya menjadi pegawai negeri sipil. Seorang lulusan BK dapat
memulai karier dari menjadi Guru BK, Koordinator Guru BK, Wakil Kepala Sekolah,
Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah bidang bimbingan dan konseling, Kepala Dinas
Pendidikan Kota/Provinsi. Tidak sedikit pula lulusan BK yang berkarier sebagai
kepala sekolah atau pengawas sekolah. Ada pula lulusan BK yang menjadi Rektor
Perguruan Tinggi seperti Bpk Prof. Dr, Sunaryo Kartadinata yang merupakan
Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), dan Dekan Fak. Ilmu Pendidikan
UPI Prof. Dr. Ahman yang juga merupakan lulusan BK. Selain itu tidak sedikit
lulusan BK yang mempunyai posisi penting di institusi sekolah maupun perguruan
tinggi.
Bagi yang ingin berwirausaha
dapat mendirikan Lembaga Konseling, Jasa Layanan Tes Psikologi, ataupun Lembaga
Konsultasi Pendidikan. Kebutuhan terhadap layanan Konseling ini semakin besar
terutama di kota-kota besar dimana masyarakatnya semakin terbuka, dan memiliki
tingkat stress yang tinggi, Dewasa ini kebutuhan akan konseling anak dan
konseling pendidikan, luar biasa banyaknya. Akan tetapi sedikitnya lulusan BK
yang mau mengisi peluang ini, menjadikan konseling anak lebih dikuasai oleh
psikolog anak sementara konseling pendidikan/karier lebih diisi oleh
praktisi-praktisi yang bahkan tidak punya latar belakang
psikologi/pendidikan/konseling melainkan belajar dari pengalaman. Lembaga
Konseling yang sudah ada yaitu Multikarya Konseling dapat diakses di http://www.multikaryakons.com/
Bidang lain yang dapat diisi
oleh lulusan BK adalah HRD/Pengembangan SDM di instansi/dunia usaha dan
industri, bank; Tenaga Konselor di Pusat Rehabilitasi, Lembaga Pemasyarakatan,
Perkumpulan Keluarga berencana Indonesia (PKBI); Konsultan pengembangan SDM;
Motivator; Badan Penasehat Pembinaan Pelestarian Perkawinan (BP4) Kementerian
Agama; Konselor dan Konsultan Pendidikan di Lembaga-Lembaga Bimbingan Belajar
(LBB).
Membantu banget artikel nya gan...makasih banget gan
ReplyDeleteSetelah s1 bimbingan konseling bisa lanjut kuliah apa lagi yg nyambung sama jurusan sblumnya?
ReplyDeleteMungkin bisa masuk psikologi
DeleteBagus ni
ReplyDeleteKalo misal S1 ambil konseling trus mau lanjut S2 guru slb bisa gak kira"?
ReplyDeleteKalo misal S1 ambil konseling trus mau lanjut S2 guru SLB bisa gak kira"?
ReplyDeleteTrimakasih, sangat bermanfaat
ReplyDeleteKalo misalnya, S1 BK terus ngambil S2 bisa jadi psikolog gak min?
ReplyDeleteKlw misalnya s1 bimbingan penyuluhan, trus ambil s2 bk bisa nggak ?
ReplyDeletebisa..
DeleteKlau S1 BK terus S2 mau ngambil pisikolog bisa gak min?
ReplyDeleteSaya lulusan D3 keperawatan usia 40 tahun masih adakah kesempatan untuk saya mengikuti jenjang pendidikan BK ini.... Basic nya saya seneng mendengar curhat orang lain dan berusaha memberi solusi pada mereka dengan ilmu pengetahuan serta pengalaman yg saya miliki.... Bahkan ketika saya sedang merawat pasienpun saya lebih suka menggali perasaan mereka dan memberi support mental kepada pasien-pasien saya
ReplyDeletesy 46 th, baru smt 1 bk
Delete